Sebuah cerita Leo Tolstoy berkisah kurang lebih begini:
Ada seorang pangeran muda yang gagah di Rusia, seorang siswa terkemuka dalam akademi militer, seorang yang jadi buah bibir orang banyak. hasratnya untuk bersetia kepada Tsar dibuktikannya dengan menjadi salah seorang ajudannya, dan bersedia mengawini seorang gadis bangsawan cantik yang dipilihkan Tsar baginya. Tapi urung. Ternyata gadis itu bekas gundik Tsar sendiri. Maka pangeran itu pun memutuskan pertunangannya dan menjadi rahib.
Di kalangan rohaniawan ini ia pun menonjol karena kekerasan hatinya buat menyempurnakan diri. Tapi tak lama kemudia ia juga terpaksa harus pergi; ia menyesal ia telah mencoba membantah kepala biara karena suatu hal yang mendorongnya untuk membuktikan bahwa ia lebih saleh.
Ia pun menyendiri dalam hutan, menyucikan diri. Tapi ia tetap menjadi buah bibir, terutama di antara para wanita bangsawan. Mereka tertarik akan sosok dan parasnya, meskipun kini telah berpakaian rahib. Pada suatu hari di musim salju seorang wanita cantik mencoba menggoda. Ia masuk ke dalam pondok Bapa Sergius. Mata mereka bertatapan dan perempuan itu menangkap api nafsu sedetik di sana. Tapi Bapa Sergius, dengan tangan gemetar, mengusirnya. Untuk melawan godaan ia mengambil kampak. Rahib itu memotong jarinya sendiri. Lalu dengan suara serak diusirnya perempuan itu, yang lari terkejut melihat jari yang berdarah. Wanita itu kemudian bertobat, dan jadi biarawati.
Maka termasyhurlah Bapa Sergius. Ia mulai dikenal sebagai orang suci. Berbondong-bondong para petani datang kepadanya buat mendapatkan penyembuhan atau berkah, dan ia menerima mereka dengan senang. Ia mulai mengganti rotinya yang coklat dengan roti putih yang empuk.
Pada suatu hari datanglah seorang ayah membawa anak gadisnya yang sakit aneh. Ayah itu minta penyembuhan. Ketika Bapa Sergius dan gadis itu sendirian tahulah orang alim termasyhur itu bahwa gadis itu sakit memimpikannya. Ia tak bisa menahan godaan. Yang tak boleh terjadi pun terjadi. Gadis itu kemudian tertidur.
Bapa Sergius pun tahu bahwa ia telah melakukan dosa dan ia pun menanggalkan baju pendetanya, menghilang ke arah hutan. Dibawah sebuah pohon ia tertidur dan ia bermimpi. Ia harus datang ke tempat adiknya perempuan tinggal. Mimpi itu juga memberi pesan kepadanya agar ia belajar dari wanita itu.
Wanita itu seorang janda biasa yang tak nampak bisa jadi pengajar kerohanian. Ia bekerja saja dengan keras dan rajin buat anak dan menantunya. Tiba-tiba Sergius sadar bahwa begitulah ajaran yang perlu baginya. Ia pun pergi.
Pada suatu hari dua orang bangsawan melihat segerombolan fakir menuju ke suatu tempat ziarah. Adalah seorang dari mereka nampak menonjol. Sosoknya tinggi dan paras tuanya tampan. "Siapakah kamu?", laki-laki tua itu ditanya. "Hamba Tuhan," jawabnya.
Pamrih atas nama batin atau atas nama rohani adalah tetap pamrih. Seringkali kita tidak tahu.
[Caping, 29 Oktober 1977 - Goenawan Muhammad]
"Hamba Tuhan, Hamba Tuhan" some of my friends say that very often...